Tampilkan postingan dengan label google. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label google. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Agustus 2010

Gmail Phone - Phone in Gmail

Gmail Phone News, Google then entered the service area of voice over internet protocol (VoIP) to provide calling features to the world through your Gmail account customers.  Through Gmail, the user can call traditional phone numbers anywhere, at the same time receive phone calls Google Voice in the number concerned. Thanks Google for your Gmail Phone.

"This is a good breakthrough. Because, Gmail users can now call directly through their Gmail page, "said Craig Walker, Product Manager for Real-Time Communication, Google, as quoted from the BBC website.

Unfortunately, until now a new Gmail customer that comes from the U.S. and Canada only can enjoy this service. During this year, the U.S. and Canada Gmail users can call a local number for free.

Gmail Phone - Phone in Gmail
U.S. Gmail users a call to England, France, China and Germany will be charged a fee of U.S. $ 2 cents per minute. While from a phone call from U.S. to home in Jakarta will be charged a fee of U.S. $ 3 cents. However, calls to mobile numbers in Indonesia will be more expensive, ie U.S. $ 11 cents.

This feature appears in the chat window on the left page of Gmail. An option 'Call Phone' will appear right under our name, which then will bring up a virtual phone keypad to enter a destination phone number you want.

For now, this feature will not be found in the Google Apps mobile application. However, Google is estimated to be expanding in the near future.

Google's move is certainly threaten Skype, VoIP service provider company, with 560 million subscribers and 124 million active users each month. Moreover, the end of this year, Skype plans to soon conduct an initial public offering (IPO) to the public.

Google did not launch how many digits must be Gmail users. To CNet, Gmail product manager Todd Jackson said simply, there are hundreds of millions of Gmail users worldwide. VoIP feature itself has been developed by Google after the company acquired Gizmo5 VoIP, in November last.

To market this new service, Google also is conducting discussions with various parties involved plan to provide VoIP telephone common on college campuses and airports, to provide local communications for free.

Whether you are interested and want to collect furniture or handicraft results? Just visit my article Indonesia Furniture Handicraft Wholesale Marketplace for more information.

Kamis, 01 April 2010

Google Bisa Bikin Kita Jadi Bodoh?

Apakah informasi yang tersedia di Internet berkontribusi pada pengetahuan, atau menyediakan informasi di atasnya saja yang pada dasarnya membuat kita bodoh?

Analis Nicholas Carr menanyakan pertanyaan itu dalam tulisan di Atlantic Monthly. "Saya tidak berpikir seperti dulu lagi, karena hanya menelusuri web dan tidak berpartisipasi dalam pemikiran yang mendalam," tulisnya.


Penulis lain, Jamais Cascio menantang artikel Carr itu dengan bantahan di publikasi yang sama. Dia mengakui bahwa teknologi baru terkadang membuat sulit untuk berkonsentrasi, tapi tantangan itu bukannya menghasilkan "kecerdasan cair" atau menghasilkan makna dalam kebingungan.

Argumen ini merupakan bagian dari sebuah studi baru dari Pew Internet & American Life Project.

google logo update page rank

Organisasi itu mewawancarai 895 pemangku kepentingan teknologi dan kritikus lewat survei online tentang harapan sosial, politik, dan perubahan ekonomi tahun 2020, dan salah satu pertanyaan yang berhubungan dengan efek dari mesin pencari seperti Google.

Sekitar 76 persen responden mengatakan bahwa Google tidak akan membuat kita bodoh.

"Google memungkinkan kita untuk lebih kreatif dalam mendekati masalah dan lebih terintegrasi dalam pemikiran. Kita menghabiskan lebih sedikit waktu untuk mencoba mengingat dan lebih banyak waktu untuk menghasilkan solusi," kata Paul Jones dari ibiblio.org di University of North Carolina Chapel Hill.

"Bagi orang-orang yang pembaca dan yang bersedia mengeksplorasi sumber-sumber baru dan argumen baru, bisa lebih baik," tulis Oscar Gandy, seorang profesor di University of Pennsylvania.

Pew juga meminta tanggapan Google. "Google akan membuat kita lebih banyak informasi. Orang yang paling pintar di dunia bisa saja di belakang sebuah bajak di China atau India. Menyediakan akses universal terhadap informasi akan memungkinkan orang-orang untuk menyadari potensi penuh mereka, memberikan manfaat bagi seluruh dunia," kata Hal Varian, kepala ekonom di Google.

"Carr tentu saja benar bahwa Google menumbuhkan pemahaman data. Tapi untuk memahami data (baik untuk Google internal maupun bagi penggunanya) tidak seperti bangunan artefak yang sama berulang kali pada jalur perakitan, melainkan memerlukan kreativitas, campuran dari pengetahuan yang luas dan mendalam, dan sejumlah koneksi ke orang lain. Itulah yang dilakukan Google adalah berusaha untuk memfasilitasi," kata Peter Norvig, direktur riset Google.(vivanews)

Kamis, 25 Maret 2010

Kota di Kansas, AS, Ganti Nama Demi Google

Walikota Topeka, salah satu kota di negara bagian Kansas, Amerika Serikat (AS), berniat menarik perhatian Google dengan mengubah nama kotanya. Dari sebelumnya memiliki nama Topeka, kini kota tersebut namanya menjadi Google.

Alasannya sederhana. Google sedang menggelar program ‘Fiber for Communities’ di mana raksasa internet itu akan menginstal koneksi internet baru di lokasi-lokasi rahasia. Tujuannya agar kecepatan internet di lokasi tersebut meningkat jadi 100 kali lebih cepat dibanding tempat lain dengan transfer data lebih cepat 1 gigabit per detik.
Lewat pengumuman resminya, Bill Bunten, Walikota Topeka mengumumkan bahwa selama satu bulan, mulai 1 Maret hingga 31 Maret, kotanya akan disebut Google. Lengkapnya Google, Kansas -- the capital city of fiber optics.

Meski walikota berusia 79 tahun itu tidak terlalu memahami booming internet, dia berharap kaum muda Topeka akan memperoleh manfaat bila koneksi internet di kota dengan banyak danau itu sekian kali lebih cepat dibanding kota lain. Ia juga yakin, koneksi internet yang lebih cepat akan membuat pemuda-pemudi Topeka tetap tinggal dan bekerja di kota tersebut, sehingga mendorong perputaran roda bisnis.

“Ini menyenangkan. Akan ada banyak hal positif terjadi di kota kami,” kata Bunten yang semua urusan menyangkut internet, surat elektronik, dan sebagainya diurus asistennya.

Kota-kota di AS memiliki waktu hingga 26 Maret untuk memberi tahu Google mengenai ketertarikan mereka terhadap program pemasangan koneksi internet. Selanjutnya Google akan memilih satu kota untuk proyek ini.

“Kami akan menawarkan layanan dengan harga kompetitif kepada sedikitnya 50 ribu hingga 500 ribu orang,” kata Google, seperti VIVAnews kutip dari CNN, 3 Maret 2010. Menurut Google, kecepatan internet di AS berada jauh di bawah standar global, sehingga mereka ingin memasang kabel broadband baru.

Google sendiri menolak berkomentar apakah mereka menganggap serius perubahan nama kota Topeka tersebut. Namun, Bunten tidak berniat mengubah nama kota selamanya seandainya Google memutuskan untuk menanam jaringan internet bagi kepentingan 123.400 penduduk Topeka.

“Tidak mungkin. Kami sangat bangga dengan kota kami, dan Topeka adalah kata dari bahasa Indian yang berarti 'tempat yang  baik untuk menanam kentang'. Kami tidak akan mengubah itu,” ucapnya.

Ini bukan kali pertama walikota Topeka mengubah nama kota. Pendahulu Bunten pernah mengubah nama kota menjadi ‘ToPikachu’ di tengah demam tokoh kartun Pikachu dalam kartun Pokemon beberapa tahun lalu.

He..he.. Maaf sebelumnya, jika mungkin ada sahabat yang mampir ke blog saya ini dan mendapati beberapa artikel yang berbau atau membahas tentang si Mbah (tuan rumah blog ini) dan berulang kali. Jujur saja, sebenarnya Christine lagi stress berat lantaran artikel kesayangan saya sebar iklan baris gratis radhityanotes.com sedang dikarantina dan dipenjara sama yang punya rumah, makanya saya coba membahas tentang tuan rumah, siapa tau berhasil, hi..hi..hi... (apanya yang berhasil??)
Source : VIVAnews,
Picture : http://cache.virtualtourist.com/2345740-Welcome_to_Kansas-Kansas.jpg

Rabu, 24 Maret 2010

Google Jadi Nama Pulau?

Kota-kota di Amerika Serikat tengah berlomba merayu Google. Ya, seiring rencana uji coba internet kecepatan tinggi yang ditawarkan Google, sekitar 20 kota ingin ambil bagian sehingga mereka coba berbagai cara menarik perhatian raksasa internet itu.

Setelah wilayah Topeka di Kansas mendeklarasikan diri sebagai kota Google, wilayah lain segera menyusul melakukan inisiatif serupa. Kota Sarasota di Florida yang berupa pulau misalnya, mengubah namanya menjadi Pulau Google.
"Kami hanya memiliki sedikit waktu untuk menarik perhatian. Banyak komunitas berlomba meraih kesempatan ini sehingga kami melakukan semua yang kami bisa," ujar Rich Swier Jr, pengusaha di Sarasota yang turut menggeber ide unik itu.

Pejabat di kota Duluth, Minnesota tak mau kalah. Mereka memposting video lelucon di YouTube yang menyatakan setiap anak lelaki pertama yang lahir di kota itu diubah namanya jadi 'Google Fiber'. Untuk anak perempuan akan dinamai 'Googlette Fiber'.

Sedangkan kampanye di kota Sarasota terasa cukup heboh. Warga kota diminta bergabung di grup Facebook untuk bersatu meminta Google memilih mereka.

Ya, Facebook termasuk sarana kampanye yang dirasa ampuh bagi kota-kota tersebut untuk mewujudkan mimpi mendapat internet kecepatan super dari Google. Dikutip detikINET dari PCWorld, Rabu (10/3/2010), sekitar 200 grup Facebook didedikasikan untuk melobi Google.

Google memang mendorong wilayah yang ingin masuk dalam uji coba untuk menominasikan diri paling lambat pada 26 Maret. Yang beruntung akan jadi tempat tes internet Google yang diklaim 100 kali lebih cepat dari layanan yang ada saat ini.(http://www.detikinet.com/index.php)

Selasa, 23 Maret 2010

Google Dihujani Pujian

Keputusan Google untuk berhenti menyaring hasil pencarian di layanan mesin pencari mereka di China disambut baik kalangan aktivis hak asasi manusia dan pegiat anti-sensor. Termasuk di antaranya sebuah komite wartawan.

Index on Censorship misalnya. Organisasi yang aktif mengkampanyekan kebebasan berekspresi, memuji tindakan Google sebagai tindakan yang sangat berani dan berprinsip.

“China merupakan pasar yang sangat menggoda bagi siapapun dan Google telah berkembang di sana selama beberapa tahun meski masih berada di bawah Baidu dalam soal penggunaan,” kata seorang juru bicara Index on Censorship, seperti VIVAnews kutip dari Guardian, 23 Maret 2010.

“Google bisa saja dengan mudah menggunakan pandangan jangka pendek dan mengatakan ‘kami akan mengikuti permainan rezim (China)’, namun mereka memutuskan untuk tidak mengikutinya,” kata juru bicara tersebut. “Untuk itu mereka layak mendapat ucapan selamat,” ucapnya.


Adapun Amnesty International, yang vokal mengungkapkan ketidakpuasan atas sikap diam Google terhadap permintaan pemerintah China, juga menyambut baik keputusan Google.

“Amnesty konsisten meminta perusahaan-perusahaan yang beroperasi di China untuk berhenti bekerjasama dengan otoritas China atas permintaan sensor mereka, dan untuk menghormati hak kebebasan berekspresi bagi pengguna web di China,” kata Kate Allen, Direktur Amnesty International di Inggris.

Allen menyebutkan, langkah Google yang melawan prinsip-prinsip tersebut merupakan kabar baik. “Ini merupakan teroboson bagi perusahaan-perusahaan internet di China, yakni untuk bersikap transparan mengenai apa yang disaring dan disensor sesuai permintaan pemerintah dan untuk memperjuangkan kebebasan berpendapat di manapun mereka bisa, menggunakan pendekatan hukum,” lanjut Allen.

Committee to Protect Journalists, badan independen untuk melindungi kebebasan pers, berharap akan melihat perubahan sikap China mengenai internet.

“Kami menyambut baik tindakan Google dan berharap semua perusahaan internet yang beroperasi di China mengambil posisi prinsipil serupa,” kata Robert Mahoney, deputi direktur komite. “Banyak situs internet yang disensor pemerintah China merupakan situs berita dan jejaring sosial,” ucapnya.

Mahoney menyatakan, keputusan Google untuk berhenti melakukan sensor akan membuat Google sebagai pihak yang salah. “Namun, untuk jangka panjang kami harap itu bisa menekan pemerintah China untuk membiarkan warga negaranya mengakses berita dan informasi yang mereka perlukan,” ucap Mahoney. (VIVAnews)