Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

Di Ujung Senja Nanti

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSKIP5G1bIs1bkIno30ID3IRXqQzDm6AyJvvAohB8m9yFQNrhKzQstyC9KWFgzrsk_jFp-Zg2mDgN7UY2CKSZK862h4X0d24WREFakoesqqwRgVwAYl1lzOJN_3ldonGHlgectYh84I9g/s1600/berdua-pada-sdenja2.jpg
Selamat malam, Sahabat Radio Cihuy! Hari ini saya merasa lelah dan random sekali, rasanya seperti seharian sudah mengendarai motor mengusahakan sesuatu yang ternyata belum saatnya kali ini didapatkan dan berakhir kehujanan. Mungkin hanya karena belum mandi. Baiklah kalau begitu, saya buat kopi dulu, dingin.

Selamat datang kembali di siaran perdata Radio Cihuy, sahabat semua. Saya persembahkan lagu ini khusus untuk anda semua yang baru saja kehujanan. Selamat menikmati.
#nowplaying Monita – Kekasih Sejati


Oke, jadi apa yang akan kita lakukan kali ini.. hmm.. bagaimana kalau kita bermain tebak-tebakan?! Siapa yang tau jawaban dari pertanyaan saya, mendapat kesempatan jalan kayang naik Monas. Tapi Monas masih di Jakarta sih, nggak jadi kalau gitu.

Saya akan buka email yang masuk ke inbox Radio Cihuy, di antara ribuan email dari Cihuyers yang masuk ini, setelah saya tentukan sebelumnya, akan saya pilih satu email secara random. Dan email yang sedang sial akan saya bacakan.
Nah, sudah saya dapatkan. Email kiriman dari.. duh, lagi-lagi pengirim lupa menyertakan alamat emailnya. Sepertinya baru saja kami terima, oh benar sekali, tertanggal hari ini dan bertuliskan pukul 22.25. Baiklah, akan saya bacakan.
Tapi sebelumnya tolong ya, bagi Cihuyers yang mau mengirim email ke Radio Cihuy lain kali jangan lupa menyertakan alamat emailnya.



Sore tadi, aku terhenti di tepi sebuah jalan yang masih sibuk dengan urusan manusia. Saat rinai gerimis membias cahaya matahari, membentuk pelangi. Waktu seakan sengaja memperlambat langkahnya, mempertemukan mataku dengan pelangi yang perlahan terkikis merah langit senja.
Sejenak, aku tak peduli bagaimana dunia.


Malam ini kurebahkan tubuh lelahku, pejamkan mata, tak ada yang kulihat selain hitam. Telingaku hanya penuh dengan lirih nyanyian hujan yang menenggelamkan.

Tiba-tiba terlintas dalam kepalaku, kubayangkan seseorang yang sedang mencintaiku, dan aku yang mungkin juga mencintainya, sedang saling tersenyum berbagi tawa.

Lalu kubayangkan, karena suatu sebab, kecelakaan atau entah apa, ia yang mungkin kucintai harus kehilangan kedua matanya. Tak ada yang dapat ia lihat selain hitam, selain kelam. Tidak juga aku. Maka tak ada lagi saling tersenyum, tak ada lagi saling tawa, yang ada hanyalah aku yang sesekali melihatnya tersenyum, melihatnya tertawa.

Dan entah karena apa, kuputuskan memberikan kedua mataku untuknya. Lalu dengan operasi yang entah bagaimana, kedua mataku terpasang di rongga matanya. Maka aku tak lagi dapat melihat apa selain hitam, selain kelam.

Perlahan ia yang mungkin kucintai dapat kembali melihat dunia, dengan kedua mataku, sampai kapanpun ia mau atau hingga ia tak lagi mampu. Ia dapat mulai kembali melihat apapun yang ia mau dengan mataku. Suatu sore Ia dapat melihat pelangi, ia dapat melihat senja, atau ia dapat juga terus melihatku yang tak lagi mampu untuk melihatnya atau sesuatupun juga.  Bila ia mau.

Dan aku, mungkin akan mulai terus seperti ini, seperti malam ini kupejamkan mataku, tak ada yang lagi dapat kulihat selain hitam, selain kelam.


Baiklah, Sahabat Radio Cihuy, tulisan di emailnya hanya sampai di situ. Tampaknya Cihuyers satu ini sedang sedikit galau, atau anda pasti penulis cerita drama, ya?! Galau kok dipiara, yang dipiara tuh kumis, biar jadi gubernur.

Ah, sudah ya. Saya sibuk, mau jemur baju bos dulu, mumpung di luar masih hujan.
Nite all, have a nice weakday.



radiocihuy.blogspot.com

Kamis, 14 April 2011

Kisah Bocah Amerika Belajar Islam

Kisah spiritual anak kecil yang memeluk islam hanya karena dia baca mengenai buku Islam, setelah sebelumnya orang tuanya memberinya semua buku semua agama yang ada di dunia, Orang tua mutusin agar anaknya sendiri yang memilih agamanya.

Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.

Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”

Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.

Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.

Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”

Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.

”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan

Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.

”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”

”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.

“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”

”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”

“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan

Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”

”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”

Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”

”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”

”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad

Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.

"ditulis oleh Abul-Jauzaa’ dari Majalah Qiblati, edisi 07 tahun II – April 2007M/Rabi’ul-Awwal 1428 H"

Renungan Kehidupan

Hidup di dunia bagaikan mimpi. Seindah apapun, begitu bangun semuanya sirna tak berbekas.

Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yg luar biasa,

Namun... Ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi. Sehelai benang pun tak bisa dimiliki...



* Tuhan tidak akan bertanya jenis mobil apa yang dikendarai Anda, tapi akan bertanya berapa banyak orang yang tidak memiliki kendaraan yang Anda bawa.

* Tuhan tidak akan bertanya seberapa lebar rumah Anda, tapi akan bertanya berapa banyak orang yang Anda sambut dirumah Anda.

* Tuhan tidak akan bertanya tentang baju bagus di lemari Anda, tapi akan bertanya berapa banyak pakaian yang Anda bagi untuk membantu mereka yang memerlukan pakaian.

* Tuhan tidak akan bertanya tentang status sosial, tapi akan menanyakan apakah kehidupan Anda menceritakan siapa Tuhan Anda.

* Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak harta yang Anda miliki, akan tetapi Tuhan bertanya apakah harta itu mengendalikan hidup Anda.

* Tuhan tidak akan bertanya apa jabatan Anda dalam pekerjaan, tapi akan bertanya apakah anda mengerjakan pekerjaan Anda dengan kemampuan terbaik Anda.

* Tuhan tidak akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk membantu diri sendiri, tapi akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk membantu orang lain.

* Tuhan tidak akan menanyakan berapa banyak teman yang Anda miliki, tapi Dia akan bertanya Anda menjadi teman sejati bagi berapa banyak orang.

* Tuhan tidak akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk melindungi hak Anda, tapi akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk melindungi hak-hak orang lain.

* Tuhan tidak akan menanyakan di lingkungan seperti apa Anda tinggal, tapi Dia akan bertanya bagaimana Anda memperlakukan tetangga di lingkungan Anda tinggal.


* Jangan bangga dgn rumah mewah, karena rumah terakhir kita adalah KUBURAN

* Jangan bangga dgn wajah yg ganteng/cantik, karena wajah kita yg terakhir adalah TENGKORAK

* Jangan bangga dengan mobil mewah, karena mobil terakhir kita adalah AMBULANCE

* Jangan bangga dgn handphone mahal/canggih, karena alat komunikasi yg bisa menyelamatkan kita adalah DOA.


Dengan demikian,

Apalagi yang mau diperebutkan?
Apalagi yang mau disombongkan?

Jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani. Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini

Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif. Jangan terlalu perhitungan Jangan hanya mau menang sendiri Jangan suka sakiti sesama apalagi terhadap mereka yang berjasa bagi kita

Belajarlah tiada hari tanpa kasih. Selalu berlapang dada dan mengalah
Hidup ceria, bebas leluasa. Tak ada yang tak bisa di ikhlaskan
Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan. Tak ada dendam yang tak bisa terhapus

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar,


Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi:
Pelangi di setiap badai,
Senyum di setiap air mata,
Berkah di setiap cobaan,
Dan jawaban di setiap doa..


Jangan pernah menyerah sahabat,
Terus berjuanglah,
Life is so beautiful.
Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan, nikmatilah...

Hiduplah dengan Taqwa & kualitas hidup yang lebih lagi, dimulai dari diri kita sendiri...

Rabu, 13 April 2011

Surat Dari Seorang Ibu Yang Terkoyak Hatinya

Anakku….Ini adalah surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu.

Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami. Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu.Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu. Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat,

Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan. Anakku…Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ?

Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ? Anakku.. Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukumanpun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat.

Ibu tidak akan sampai hati melakukannya, Anakku… Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…Anakku…Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mata ibu nak, ringankanlah beban kesedihan ibu. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini.

Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”. Anakku…Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu.

----------------------------------------------------------------------------------------
“Wahai, Rabbku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangiku waktu aku masih kecil”.

Sungguh Mulia Hatimu Ibu.

Dears, sebelum melanjutkan, kisah dibawah ini adalah sebuah kisah fiksi yang tertuang didalam imajinasi, tidak ada kejadian fakta didalamnya. Hanya terinspirasi dari kisah Ibu dan Bunda yang di ikutkan dalam festival blog : Minum Teh Bersama Ibu dari guskar dot com

Dirumah nenek (begitulah anakku biasa memanggil Ibu), aku lihat Ibu tengah ngobrol dengan adik perempuanku satu-satunya yang sudah kian beranjak dewasa. Dari mimik mulut mereka, aku tau pasti mereka sedang membicarakan Ayah yang memang jarang pulang akhir-akhir ini. Menurut pengakuannya sih kerja, ya maklumlah Ayahku adalah seorang pengusaha Pub dan Resto yang cukup sangat sibuk.

Dan Resto Ayah kebanyakan ada di luar kota. Jadi dalam sebulan, paling banter Ayah pulang hanya tiga sampai empat kali saja. Itupun hanya setengah hari bisa duduk nyantai di rumah bersama kami sedangkan malamnya Ayah harus pergi lagi ngurusin Pub dan Karaoke.

Ayah selalu menenteng tas laptopnya setiap kali pulang dan turun dari Aerio-nya. Masih mengenakan kemeja lengan panjang dipadu dengan celana kain warna hitam dan sepatu coklat yang mengkilat. Begitulah gambaran setiap kali Ayah pulang.

Dengan mata masih setengah nyawa, aku keluar dari kamar, setelah seharian tertidur pulas, kecapekan nyetir dari rumah kami di luar kota sampai ke rumah Ibu tanpa ada yang menggantikan. Aku biarkan istri dan anakku melanjutkan tidur siangnya. Di sela-sela lemari hias, dari balik tirai kelambu, aku lihat Ibu sedang duduk di lantai keramik, memilah-milah baju Ayah yang baru saja ia angkat dari tali jemuran. Disampingnya berbaring manja adik cantikku satu-satunya.

"Gak terasa, sudah 18 tahun usiamu, Adikku..." gumamku dalam hati.
"Ibu..." dia Ratih namanya, "Ibu kenapa sih gak pernah protes ngeliat Ayah jarang pulang gitu?"
"Ayah kamu lagi kerja Sayang..." sahut Ibu tenang.

"Bohong..! Ratih ni udah besar Bu... uda tau sama hal-hal kayak gituan.."
"Hal-hal kayak gituan gimana maksud kamu?"

"Banyak temen Ratih yang ngeliat Ayah sering jalan sama gadis-gadis cantik seumuran Ratih Bu..."
"Huss..! Jangan asal bicara ya kamu, kalo Ayah denger bisa marah lho.."
"halaaaah... udalah Bu.. Ibu gak usah nutup-nutupin lagi.. Ratih udah tau semuanya." sanggah Ratih sambil mencibir.

Ku lihat Ibu lalu meletakkan baju yang tengah dipegangnya di atas alas setrikaan dan kemudian menggenggam kedua tangan Ratih erat. Dengan senyum penuh kasih dipandangnya sepasang mata itu dalam-dalam,

"Anakku... ingatlah selalu apa yang hendak Ibu katakan ini. Dan ingat itu ketika kelak kamu sudah berumah-tangga dan suami kamu sudah setua Ayah. Laki-laki seusia Ayah itu, tengah mengalami masa remajanya yang kedua. Dia mulai sedikit kekurangan kepercayaan akan dirinya.

Karena itu dia merasa membutuhkan gadis-gadis cantik dan muda di sekelilingnya yang akan selalu memberinya kata-kata pujian dan sanjungan. Yang dianggapnya itu sebagai bukti bahwa dia masih menarik, bahwa dia masih belum tua, bahwa para wanita masih mengejar-ngejar dia."

Ibu mengguncang-guncang tangan Ratih pelan dan mengusap anak rambut yang menempel di dahinya.

"Masa itu tidak akan berlangsung lama, Sayang... Bila sudah berlalu, Ayah akan kembali lagi pada kita, pada Ibu... Dan selama menanti, tidaklah berguna bagi Ibu untuk bermuka asam atau menyambutnya dengan palang pintu, sebab itu hanya akan membuatnya lari dari rumah yang dianggapnya sudah jadi seperti neraka.

Lebih baik kalo dia dimanjakan dan diberi kesan bahwa dia dibutuhkan oleh istri dan anak-anaknya. Ingat Ratih... tidak ada seorangpun yang tidak tergerak hatinya ketika mendapat perhatian lebih dari orang lain. Percayalah itu. Camkan baik-baik apa yang Ibu bilang.

Bila suamimu kelak sudah berumur mendekati lima puluh tahun, dan bila dia mulai tertarik lagi pada gadis-gadis cantik, janganlah kamu musuhi dia. Tapi tetaplah berhias yang cantik, sediakan minuman dan makanan yang masih hangat dan bereskan selalu tempat tidurnya. Siapkan baju-baju yang akan dipakainya seperti biasa.

Tutup mata kamu dan tersenyumlah. Tunggu sampai masa itu usai dan setelah semua berlalu, kamu akan merasakan sebuah kenikmatan hidup yang luar biasa. Yaitu ketika suami kamu akhirnya benar-benar kembali. Karena sesungguhnya, Tuhan akan memberikan sesuatu yang lebih pada hamba-Nya yang senantiasa sabar dan tawakal."

"Ibu...." spontan Ratih langsung bangun dan memeluk Ibu erat sambil menangis.

Begitu mulianya hatimu Ibu..
Dengan begitu bijaknya, Ibu menjawab pertanyaan Ratih, membela Ayah yang sudah jelas-jelas bersalah, mengkhianati kepercayaan yang Ibu berikan. Jujur aku kagum pada kemuliaan hatimu Bu... dan semua apa yang Ibu katakan itu benar-benar membuatku tergugah. Aku janji, aku akan berusaha untuk sebisa mungkin mengindari hal itu.

Tuhan... betulkah semua apa yang Ibu katakan itu..? Akankah aku nanti juga seperti itu? Jangan ya Tuhan... jangan Engkau buat hamba menjauh dari istri dan anak-anak hamba. Hamba sayang banget dengan mereka.

Selasa, 12 April 2011

Cerpen : Jangan Benci Aku, MAMAH...!

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjm7fKlTJYCk8AtQlzWNhIrR72EAOBNm91zumDYk7_s7IpYnm1plCtF5P09vwiuosmjTbz9ncol8sQFxEV1WUWdJPPsw9Rdas5J_w9dvRCXDFeTh157QUaOiD3lwqJTYsXXwJYfPigt-IPA/s400/13662_1272249373421_1445515687_30780349_2151316_a.jpgDua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.

Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.

Saat usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja.

Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.......... telah berlalu sejak kejadian itu.

Kini Aku telah menikah kembali dengan Beni, seorang pria dewasa yang mapan. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama caya? caya lindu cekali cama Mama!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,
"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"
"Nama caya Elik, Tante."
"Erik? Erik... Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?"

Aku langsung tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala. Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu.

Ya, sepertinya saya memang harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di pikiranku. Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik...sabar ya nak...."

Sore itu aku memarkir mobil biruku di samping sebuah gubuk, dan Beni suamiku dengan pandangan heran menatapku dari samping. "Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu." tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.

Ternyata Tuhan sungguh baik kepadaku. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari mobil diikuti oleh suami dari belakang. Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter didepan. Aku mulai teringat betapa gubuk itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik..... Erik......

Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun aku tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Aku mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari, baju butut yang kadang aku sendiri jijik mencucinya......

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, aku pun keluar dari ruangan itu... Air mataku mengalir dengan deras. Saat itu aku hanya diam saja. Sesaat kemudian aku dan suami mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba - tiba aku melihat seseorang di belakang mobil kami. Aku sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!"

Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?"

Tiba - tiba Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya seraya memanggil, 'Mamaaa..., Mamaaa!'

Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan & mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu....."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...
"Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi...? Mama benci ya sama Erik? Ma...., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji ya, kalau Mama tidak akan benci lagi sama Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, ......"

Aku menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!" Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal persis di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ...

Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa Anda sungguh tidak terampuni!"

Aku kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

Minggu, 03 April 2011

Kita Adalah Sebuah Ketidakmungkinan

 http://inspirasijiwa.com/wp-content/uploads/2010/12/relationship.jpg

Aku adalah wanita yang selalu mengamatimu dari balik jendela. Memperhatikan setiap gerakmu dari dulu. Sejak kau masih sekolah dasar, hingga kau lulus sekolah menengah. Sejak kita masih memakai seragam putih abu, hingga kita merantau ke kota. Aku merekam kenangan ketika kau bermain layang-layang di pinggir sawah, dan kau yang menangis karena layang-layangmu putus, atau ketika kau begitu gembira mendapat hadiah, berupa dua buku tulis, dan sebuah pensil karena kau juara kelas ketika sekolah dasar. Aku bahkan tak yakin, kalau kau lebih mengingat masa kecilmu, daripada aku. Aku mengingat semua masa kecilmu, aku mengingat semua tentangmu.
Aku adalah wanita yang ketika sekolah menengah selalu ingin pulang satu bus denganmu, sekedar melihat wajahmu lebih dekat, sukur-sukur bisa duduk dekat denganmu, atau mungkin bisa ngobrol denganmu kesana-kemari. Ah tidak. Aku takut. Aku terlalu takut. Aku tak mampu mengatur degup jantungku jika dekat denganmu. Aku adalah wanita yang mengagumi seorang pria, tapi tak berani mengungkapkan isi hatinya.
Aku adalah wanita yang selalu membuatkan puisi cinta untukmu, yang tak pernah kuberikan untukmu (dan aku harap, kau memang tak pernah membacanya). Puisi yang diam-diam selalu dibaca temanku, dan dia akan meledekku habis-habisan, sambil tertawa puas setelah membacanya. Aku marah. Aku marah jika ada yang mengambil segala sesuatu tentangmu dariku. 
Aku adalah wanita yang telah memiliki kekasih, tapi tak pernah bisa mengusirmu dari ruang tersendiri di kepalaku. Tak pernah bisa mengijinkan orang lain menempati tempat itu. Kekasihkupun tidak. Aku memang bodoh, karena untuk sekedar memberikan alasan mengapa aku masih memberi ruang untukmupun aku tak bisa menjawab.
- Suatu saat kita berpisah (meski sebelumnya tak pernah bersatu). Nasib memanggil kita untuk menemuinya. Kau bergegas ke negeri timur, aku beranjak ke negeri barat. Jarak dan waktu selalu menjadi hantu untuk kau dan aku. -
***
Aku adalah wanita yang selalu mengkhawatirkanmu, ketika kita jauh di kota yang sama-sama asing.
Aku adalah wanita yang mencoba menjadi wanita pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, meski ketika kutelpon, nomormu sedang sibuk. Mungkin aku kalah dulu dengan kekasihmu.
Aku adalah wanita yang selalu menyimpan semua pesan singkat darimu. Dari yang hanya berisi dua huruf, sampai yang memuat dua halaman lebih.
Waktu seperti sedang naik sebuah pesawat terbang. Pesawat terbang betulan, bukan sekedar pesawat kertas mainan. Melesat cepat. Lalu lalang peristiwa, tapi percayalah, selalu ada waktu untuk mengingatmu.
***
Suatu ketika, aku merasa, bahwa kita semakin mempersempit jarak. Aku tak memaksamu mendekat, kau tak menuntutku untuk lebih dekat. Mungkin waktu dan keadaan berubah jadi sebuah tali yang berpusat pertemuan, menarik kita untuk menuju tengahnya.
***
Kita berjanji untuk bertemu di sebuah restoran di tengah kota. Di sebuah kota di antara kotaku dan kotamu. Aku menjadi wanita tercantik katamu hari itu, dan kau telah kunobatkan sebagai malaikat paling bersinar sedari dulu.
Mulanya sebuah basa-basi ringan, karena lama tak bertemu, lalu sebuah obrolan yang lucu dan tak perlu. Dilanjutkan cerita panjang dan semakin mengasikkan. Mataku suka menangkap matamu yang hendak mencuri pandang wajahku. Kuterjemahkan itu sebagai sebuah pujian untukku. Ini adalah botol minuman kedua, dan french fries yang entah keberapa. Kita terjebak dalam surga, sementara.
Tak terasa, hari sudah hampir senja. Bangku-bangku mulai malas berbicara.
Tiba-tiba kau genggam tanganku yang dingin. Gemetar, seperti ada pertunjukan musik yang riuh dalam hatiku. Aku cuma diam, menerka-nerka, apa yang akan kau lakukan. Kau panggil namaku, lalu matamu mencoba menjerat mataku mataku. Aku pasrah.
Aku coba membalas tatapan matamu, tapi sepertinya terlalu tajam. Aku tak mampu, aku tak bisa memaksakan diri, cuma kutundukan kepalaku.
“Na, aku sayang kamu. Maukah kau jadi kekasihku?”. Tak ada basa-basi dalam kalimatmu. Entah karena kau tak terlalu pandai basa-basi, atau karena karena kau memang bingung merangkai kata-kata, untuk menyatakan cinta yang pas kepadaku.
Hatiku rasanya seperti dimasukkan sebuah blender yang mesinnya dinyalakan. Diaduk, dicampur, tak karuan. Perasaan antara senang, kaget, dan sedih juga. Semua diaduk. Membuat pikiranku mendadak migren, tapi ingin terbang.
Senang karena selama ini ternyata kau juga punya rasa yang sama denganku. Kita saling mencinta. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Dan aku menjadi wanita terhormat, karena mendapat ucapan cinta dari lelaki yang selama ini jadi impianku. Kaget karena hampir tak percaya bahwa kejadian yang tak mungkin ini ternyata bisa terjadi. Dan sedih, karena nyatanya aku tak bisa menerimamu sebagai kekasihku. Meskipun aku juga menyayangimu. Aku tak mau orang lain tersakiti. Aku tak mau orang tua kita sakit hati. Kita tak mungkin menjadi sepasang kekasih. Karena kau adalah kakak kandungku, dan aku adalah adik kandungmu.


Kamis, 31 Maret 2011

Surat Pendengar 1 : Kunyit dan Kerajaan Ladang

Selamat malam, Sahabat Radio Cihuy tersayang! Kembali di siaran perdata bersama saya, DJ pique is in the house, baru pulang nih. #DJ = Dump Junkey
Sementara saya mandi sambil bernyanyi, silahkan nikmati dulu lagu berikut.
Right people, be cool, take a bath.
#nowplaying Mulan Jameela – Makhluk Tuhan Paling Sexy

Baiklah, bagaimana kabar hari ini sahabat tersayang, masih 24 jam?! Bagus.
Baru saja saya buka email yang masuk inbox Radio Cihuy setelah menunggu sampai adzan magrib tadi, dan saya dapati sebuah email dari seorang Cihuyers berisi.. apa ya ini, semacam dongeng nampaknya. Baiklah, karena program acara siaran perdata ini tak memiliki format acara semuanya bisa terjadi, saya bacakan saja.


Alkisah, di sebuah kerajaan bernama Kerajaan Ladang. Sebuah Kerajaan yang subur, tanahnya gembur, namun penduduknya tidak semuanya makmur. Hiduplah cukup banyak macam rakyat yang akur, babak belur, pelipur, ngawur, semuanya campurbaur.

Seorang pemuda desa bernama Kunyit memiliki cita-cita sangat tinggi, setinggi menjulangnya anak pohon toge prematur tertinggi di dunia, yaitu menjadi bagian dari anggota kerajaan. You know dong, yang bekerja di kerajaan, mengurusi kerajaan dan berjalannya wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaannya.

Mengapa Kunyit demikian?! Itu karena Kunyit adalah seorang pemuda yang mau sedikit membaca dan memperhatikan keadaan lingkungannya, tidak hanya tinggal dan duduk di sekolah murah yang mengajarkan muridnya menerima pelajaran mentah-mentah.
Lalu apa gerangan yang diperhatikan dan dipikirkan Kunyit hingga ia bercita-cita menjadi bagian dari anggota kerajaan?! Demikianlah,

Lama Kunyit memperhatikan, para anggota kerajaan yang notabene kebanyakan darinya adalah bangsawan, mendapatkan banyak fasilitas yang diberikan oleh kerajaan. Entah apakah mereka memang sudah menjadi seorang bangsawan sebelum menjadi anggota kerajaan atau menjadi bangsawan karena menjadi anggota kerajaan. Kunyit tidak terlalu memikirkan. Namun Kunyit berpikir, menjadi anggota kerajaan pasti akan memiliki lebih banyak kelebihan dibanding menjadi pedagang buah yang seharian berjualan di emperan jalan.

Dengan menjadi anggota kerajaan, Kunyit merasa akan lebih banyak memiliki hak, walau tentu harus juga memiliki kewajiban, atau kewajiban yang bisa ia sebut hak, ah iya, ia merasa akan lebih banyak memiliki hak. Ia akan merasa berhak mendapatkan fasilitas-fasilitas demi menunjang pemenuhan kewajibannya. Ia akan merasa berhak mendapatkan baju mahal terbaik karena perlu ia gunakan untuk bertemu diplomat dari kerajaan lain. Ia akan merasa berhak mendapat kuda gagah tercepat karena perlu ia gunakan tiap kali harus memenuhi panggilan raja. Ia merasa berhak mendapatkan apapun yang ia perlu untuk menjalankan tugasnya sebagai anggota kerajaan. Ya tentu saja, tidak ada yang salah, bila kerajaan memberinya hak tersebut, siapa yang bisa menghalanginya mendapatkannya?!

Kunyitpun berpikir, karena ia anggota kerajaan,  ia akan merasa lebih banyak memiliki hak dari warga-warga desa yang terpaksa kekurangan pangan, yang terpaksa kelaparan. Ya tentu saja, ia anggota kerajaan. Iapun berpikir, ia tetap merasa memiliki lebih banyak hak dari para buruh yang seharian terpaksa kecapaian, yang terpaksa kelelahan. Ya tentu saja, ia anggota kerajaan. Iapun mungkin akan merasa lebih penting, berguna dan istimewa dari pedagang koran, penyapu jalanan, dan penjual bunga yang biasa ia temui seharian. Ya tentu saja, ia anggota kerajaan.

Pokoknya, setelah menjadi anggota kerajaan yang bekerja untuk kerajaan, Kunyit berpikir maka kehidupannya akan lebih terjamin. Hidupnya akan menjadi salah satu tanggungan kerajaan dari ratusribuan anggota kerajaan lainnya. Tentu saja, ini mudah bagi sebuah kerajaan yang begitu megah.

Lalu mereka para buruh, warga desa, pedagang koran, penyapu jalanan, oh.. mereka hanya sempat bekerja untuk diri mereka sendiri, bukan untuk kerajaan, atau setidaknya mereka tidak terdaftar menjadi anggota kerajaan, tentu saja tidak menjadi tanggungan kerajaan. Ya mungkin cukup sekali-sekali diberi bonus lebih atas pekerjaannya, oleh kerajaan, karena toh mereka berada di bawah kekuasaan kerajaan. Tapi kehidupan mereka tidak dijamin oleh kerajaan, tidak menjadi tanggungan kerajaan, toh mereka bukan anggota kerajaan.

Maka setelah banyak berpikir, dengan banyak keuntungan yang bisa didapatkannya itu Kunyit pun membulatkan tekadnya untuk menjadi anggota kerajaan. Suatu saat nanti ia tak perlu berpikir bahwa walau ia berhak mendapatkan sesuatu, ia merasa perlu berpikir juga apakah ada orang lain yang jauh lebih berhak mendapatkan itu.

(bersambung..)



Wah, ternyata ceritanya bersambung, Sahabat Radio Cihuy. Sayangnya pengirim email tersebut tidak menyertakan alamat emailnya, jadi kami kesulitan untuk menanyakan bagaimana akhirnya nasib saudara Kunyit tersebut. Mari kita doakan, semoga saudara Kunyit baik-baik saja, segera bertemu dengan keluarganya dan cerita ini berakhir secepatnya.

Hoo, ternyata waktu sudah menunjukkan sebuah jam dinding. Baiklah kalau begitu, saya undur diri, sahabat tersayang! Sampai tidak bertemu lagi saat saya aju diri.
Eh iya, jangan lupa sarapan dahulu sebelum tidur.
Nite, Luv U.

Story Behind Love Song


 

Michael Buble – Kissing a fool

You are far
When I could have been your star
You listened to people
Who scared you to death
And from my heart 
 
Strange that you were strong enough
To even make a start
But you'll never find
Peace of mind
Till you listen to your heart


People
You can never change the way they feel
Better let them do just what they will
For they will
If you let them
Steal your heart from you

People
Will always make a lover feel a fool
But you knew I loved you
We could have shown them all
We should have seen love through

Fooled me with the tears in your eyes
Covered me with kisses and lies
So bye
But please don't take my heart


You are far
I'm never gonna be your star
I'll pick up the pieces
And mend my heart
Strange that I was wrong enough
To think you'd love me too

You must have been kissing a fool
I said you must have been kissing a fool


But remember this
Every other kiss
That you'll ever give
Long as we both live
When you need the hand of another man
One you really can surrender with
I will wait for you
Like I always do
There's something there
That can't compare with any other


You are far
When I could have been your star
You listened to people
Who scared you to death
And from my heart
Strange that I was wrong enough
To think you'd love me too
You must have been kissing a fool
You must have been kissing a fool

You
must have been kissing a fool


*****

Apa kabar, kekasih?! Kuharap saat ini pun kau belum buta warna, karena bila kau sudah buta warna, kau tak akan mengerti mengapa aku menulis semua ini.
Sebenarnya maksudku sederhana, aku hanya ingin kau tau apa yang kurasakan tiap kali tak bosan-bosan aku mendengar lagu di atas. Mungkin dengan kata dan warna, walau tanpa suara, tanpa tatap muka, kau akan mengerti juga.


Bila kau melihat warna ini, aku sedang mengenang saat-saat terakhir kita bersama dulu, saat kita mulai terpisah sesuatu yang kau sebut jarak. Saat aku terpaksa tak bisa selalu ada di sisimu seperti biasanya, saat aku mulai tak tau apa yang kau pikirkan, kau rasakan, karena semuanya mulai kau simpan sendiri tak kau sampaikan. Saat kau mulai berpikir sendiri tanpa mengajakku seperti biasanya, atau entah apa mungkin kau sudah mengajak berpikir seseorang yang lainnya. Saat kau di kotamu, dan aku di kotaku. Saat kita berada di tempat berbeda, entah apakah saat itu harapan kita masih di tempat yang sama.


Lalu dengan warna ini aku mulai tau maksud diammu yang tiba-tiba saat itu, saat kau mulai membisu. Pernah aku merasa heran dengan sikapmu, tapi dengan warna ini aku memaklumi benar akan pilihanmu meninggalkanku. Walau aku tak begitu suka dengan sikap dan caramu. Tapi ini, warna pemakluman. Tidakkah warna ini bagimu menenangkan?!


Kuharap dengan warna ini kau juga dapat memaklumi sikapku. Aku hanya manusia, walau hanya satu dalam seribu, namun juga aku pun satu dari 999. Aku bagian mereka, namun bukan mereka. Aku satu yang mungkin memiliki beberapa hal yang berbeda, karena itu aku tak mau menghapusnya dengan harus mengikuti bagaimana yang 999 lainnya. Dengan warna ini aku berharap, agar kau bisa melakukan hal yang sama denganku. Tidak bisakah kau berpandangan sepertiku?!

Aku sedang tersenyum dan sedikit tertawa saat kau melihat warna ini. Bukan senyum senang, bukan senyum nyaman, bukan juga senyum bahagia seperti saat tiap kali dulu kita berjumpa dan kau memakai baju berwarna ini yang bagiku cukup mengganggu mata. Tapi bagiku keberadaanmu selalu dapat mengalahkan semua hal yang tak ku suka, bahkan terkadang aku tak begitu perduli dengan warna apapun asalkan kau ada. Namun kali ini dengan warna ini aku tersenyum, aku tertawa, senyum miris, tawa yang mengiris-iris. Kini warna ini sangat mengganggu mata, sejak kau mungkin memang tak bisa ada.


Aku bingung harus merasa apa dengan warna ini, entah bagaimana aku harus menjelaskannya. Tapi saat kau melihat warna ini, sambil bernyanyi bibirku tersenyum, lalu tertawa sambil menangis, pipiku dijatuhi air mata walau memang tak seberapa. Entah bagaimana rasanya. Entah bagaimana menjelaskannya. Ini warna tersulit yang ingin kujelaskan padamu, kucoba mencari cara menjelaskan yang lebih baik tapi tak pernah bisa, jadi dengan warna ini aku menyerah, tapi aku tak pernah bisa menyerah, walau aku tau aku tak mampu. Jadi entah aku harus merasa apa. Entah aku perlu bicara apa. Cukup begini saja aku menjelaskannya.


Tidakkah ini terlihat seperti warna yang putus asa?! Bagai warna yang enggan ada, bagai sebuah tulisan di sebuah dinding yang mulai dan semakin tersamar terhapus angin badai dan waktu. Kupikir walau tanpa kata, warna ini sendiri sudah dapat menjelaskan maksudnya.


Maaf, dengan warna ini sebenarnya aku agak emosi. Bukan marah, hanya saja terasa ada tekanan yang menghentak-hentak di dada, tekanan yang besar sekali, aku tak dapat menahannya. Seakan ada sebuah tekad yang dengan sangat ingin kujelaskan padamu, yang kuharap dapat membuatmu percaya padaku seperti rasa percayaku padamu dulu yang tanpa cela, hingga kau yakin bahwa aku berbeda dengan banyak mereka yang mungkin pernah juga mencintaimu sebelumnya. Hingga kau mungkin suatu saat nanti dapat menerima bahwa dibandingkan dengan mereka semua aku memang tidak sama. Hingga kuharap kau mau kembali berpikir untuk kita kembali bersama. Karena aku berbeda!!
Aku tau, kau pernah katakan tak suka memakai baju dengan warna ini, mungkin kau memang tak suka warna ini. Silahkan, bila kau mau berpura-pura buta warna. Tapi aku ingin kau tau, juga berbeda dengan mereka yang lainnya, tak akan pernah ada kata pernah bagiku untukmu, apapun yang terjadi, bila juga kau tak akan pernah mau mengerti.


Sudah kujelaskan setiap warnanya. Mungkin kau akan tau apa yang kurasakan tiap kali tak bosan-bosan aku mendengar lagu ini, itupun bila memang kau mau tau. Di akhir lagu aku merasa banyak warna bersatu, entah bagaimana rasanya, mungkin seperti gila. Entahlah, aku belum pernah menjadi gila, aku selalu sadar dengan yang kulakukan. Kau bayangkan sendiri saja bagaimana rasanya, kau sudah tau arti setiap warnanya.

Baiklah, bila kau sempat, ingat aku suatu saat. Jangan lupa, kau pernah sangat dekat dengan orang bodoh, aku. Aku bahkan masih saja mencintaimu saat kau mencintai seseorang yang bukan aku. Lebih bodoh lagi, sepertinya aku lebih mencintaimu dibanding kau mencintai orang itu. Ah iya, aku memang senang menjadi bodoh untukmu, sejak dulu.


Hey, dengarkan lagunya, :')

Selasa, 29 Maret 2011

Antara Cinta dan Kesetiaan

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje85eWp_eKSCQHSmNg3VEPTeMHvvVv0_WipoJ76nLu5h3R0J2zc_qiUKe4sQrz_DWrt-vOc7nrg31CjtjmD_Gdqk4Av3R-FHzE5UJSpvtEUlUIAqqdvmqkcr4rUSl1ny02n0SrFVGl25c/s320/Puisi+Cinta+Tentang+Kesetiaan.jpg
Jika Anda ditanya benarkah Cinta itu butuh Kesetiaan? Saya yakin jawaban anda sekalian pasti ya. Nah, Bagaimna jika anda seorang yang susah untuk menjadi orang yang setia, Atau anda seorang yang sering menjadi koraban cinta, atau seorang yang tidak mengerti apa itu cinta? Apakah anda akan dengan lantang mengatakan “ Ya!!! Cinta itu butuh Kesetiaan GaN. ” saya yakin sobat akan berfikir ulang tentang makna kesetiaan.

Ada suatu kisah tentang seorang pemuda yang menjalin hubungan dengan seorang yg dianggapnya benar-benar mencintainya, Tetapi, pada akhirnya mereka berpisah. Dan setiap kali pemuda ini berusaha mendapatkan seorang yang benar-benar setia kepadanya, tetap saja Ia tidak mendapatkan kesetiaan yang begitu ia dambakan. Sehingga pemuda ini pun akhirnya yakin bahwa kesetiaan itu tidak bisa dipaksakan.


Dari kisah singkat diatas ada sedikit pelajaran yang dapat kita ambil bahwa sebelum mencintai seseorang tanamkanlah dalam diri untuk selalu setia kepada kekasih anda. Bila ada keraguan jangan pernah mengobral kata-kata Cinta karna hal itu sungguh menyakitkan bila terjadi dalam kehidupan anda. Tidak sedikit orang yang hilang gairah hidup karna patah hati, dihianati kekasih, dan tidak dianggap lagi. Apa yang sobat perbuat jika berada di posisi seperti ini? Mampukah sobat menatap kaca dan tersenyum sambil berkata Life must go on buddy, just forget it and never look back. Can you guys do that? Bagi orang yang mengerti bahwa cinta dan kesetiaan itu tidak bisa dipaksakan pasti sobat akan mampu merespon dengan positif. Akan tetapi jika anda seorang yang tidak terima dengan hal ini maka anda akan sangat membenci dia dan berharap tidak pernah berjumpa dengannya lagi.
Jadi, Bagaimana agar kita tahu bahwa orang yang kita cintai itu setia kepada kita? Apakah dengan mencari mata-mata untuk mengawasi si dia, Atau anda bertanya kepadanya, atau sobat yakin seratus persen akan kesetiaan si dia. Tapi menurut saya, mengetahui kesetian dalam setiap percintaan dibutuhkan kesabaran, kesabaran untuk memahami tingkah laku dia, perangai yang baik dan buruk dan yang lebih penting anda yakin dengan kesetian anda padanya. Jika anda sabar dalam memahami tingkah laku si dia, anda akan memiliki ruang untuk melihat sejauh mana kesetiaannya kepada anda. Nah, ketika ada celah bahwa dia tidak setia maka itu tergantung anda. Jika sobat terbuka dengan kekasih sobat maka sedikit konflik bisa diselesaikan dengan mudah. Atau malah sebaliknya.

Ini hanya tulisan singkat tentang Benarkah cinta butuh kesetiaan? Adapun tulisan ini murni dari pandangan Dan Filosofi Cinta Penulis. Jika ada yang mw nambah Silahkan. Bagi Siapa yang berkenan menanggapi tulisan singkat ini , Silahkan dan beri tanggapan dengan jelas dan harmonis.

Kisah Nyata: Keteguhan si kecil Bar`ah

 Gadis Bar'ah Ini adalah kisah gadis berumur 10 tahun bernama Bar`ah berasal dari Mesir, orangtuanya adalah seorang dokter dan telah pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.


Pada usia ini, Bar`ah menghafal seluruh Al Qur'an dengan tajweed, dia sangat cerdas dan gurunya mengatakan bahwa dia sudah maju untuk anak seusianya.


Keluarganya kecil dan berkomitmen untuk Islam dan ajaran-ajarannya ... . hingga suatu hari ibunya mulai merasa sakit perut yang parah dan setelah beberapa kali diperiksakan diketahuilah ibu bar’ah menderita kanker, dan kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir/kronis.


 
Ibu bar’ah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari dan tidak menemukan ibunya di sampingnya ... dan inilah ucapan ibu bara’ah kepadanya "Bar`ah aku akan pergi ke surga di depan Anda, tapi aku ingin kamu selalu membaca Al-Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak... "


Gadis kecil itu tidak benar-benar mengerti apa yang ibunya berusaha beritahukan , Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ia mulai dipindahkan ke rumah sakit untuk waktu yang lama. Gadis kecil ini menggunakan waktu sepulang sekolahnya untuk menjenguk ibunya ke rumah sakit dan membaca Quran untuk ibunya sampai malam sampai ayahnya datang dan membawanya pulang.


Suatu hari fihak rumah sakit memberitahu ayah bar’ah bahwa kondisi istrinya itu sangat buruk dan ia perlu datang secepat dia bisa melalui telfon, sehingga ayah bar’ah menjemput Bar`ah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ia memintanya untuk tinggal di mobil ... sehingga ia tidak akan shock jika ibunya meninggal dunia.


Ayah keluar dari mobilnya, dengan penuh air mata di matanya, ia menyeberang jalan untuk masuk rumah sakit, tapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah bar’ah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu...tak terbayangkan ..tangis gadis kecil ini pada saat itu...!


Tragedi Bar`ah belum selesai sampai di sini... berita kematian ayahnya yang disembunyikan dari ibu bar’ah yang masih opname di rumah sakit, namun setelah lima hari semenjak kematian suaminya akhirnya ibu bar’ah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil ini sendirian tanpa kedua orangtuanya, dan oleh orangtua teman-teman sekolah bar’ah memutuskan untuk mencarikan kerabatnya di Mesir, sehingga kerabatnya bisa merawatnya.


Tak berapa lama tinggal di mesir gadis kecil Bar`ah mulai mengalami nyeri mirip dengan ibunya dan oleh keluarganya ia lalu di periksakan, dan setelah beberapa kali tes di dapati bar’ah juga mengidap kanker ... tapi sungguh mencengangkan kala ia di beritahu kalau ia menderita kanker....inilah perkataan bar’ah kala itu: "Alhamdulillah, sekarang aku akan bertemu dengan kedua orang tua saya."

Semua teman-teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya!.....Subhanallah....

Orang-orang mulai mendengar tentang Bar`ah dan ceritanya, dan Saudi memutuskan untuk mengurus nya... ia mengirimnya ke Inggris untuk pengobatan penyakit ini.

Salah satu saluran TV Islam (Al Hafiz - The pelindung) mendapat kontak dengan gadis kecil ini dan memintanya untuk membaca Quran... dan ini adalah suara yang indah yang di lantunkan oleh bar’ah...

http://www.youtube.com/watch?v=NnNS9ID9Ecw Link Bar'ah recited

Mereka (saluran TV Islam) berhasil menghubungi lagi Bar’ah sebelum ia dlm keadaan koma dan dia berdoa untuk kedua orangtuanya dan menyanyikan Nasheed (Nasyid) ...

http://www.youtube.com/watch?v=yD5S-jtxFls Link Bar'ah Nasheed

Hari-hari terlewati dan kanker mulai menyebar di seluruh tubuhnya, para dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia telah bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah baginya... tapi beberapa hari setelah operasi amputasi kakinya kanker sekarang menyebar ke otaknya, lalu oleh dokter memutuskan untuk melakukan operasi otak... dan sekarang bar’ah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan dalam kondisi koma.

Silakan berdoa untuk Bar’ah, dan bagi saudara-saudara kita di seluruh dunia.


Video bar'ah lainnya .. .


http://www.youtube.com/watch?v=gkIO02s6Ywg
Link Bar'ah recited

Subhanallah... Semoga menjadi Ibrah bagi kita yg diberi kelapangan hidup.