Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

Di Ujung Senja Nanti

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSKIP5G1bIs1bkIno30ID3IRXqQzDm6AyJvvAohB8m9yFQNrhKzQstyC9KWFgzrsk_jFp-Zg2mDgN7UY2CKSZK862h4X0d24WREFakoesqqwRgVwAYl1lzOJN_3ldonGHlgectYh84I9g/s1600/berdua-pada-sdenja2.jpg
Selamat malam, Sahabat Radio Cihuy! Hari ini saya merasa lelah dan random sekali, rasanya seperti seharian sudah mengendarai motor mengusahakan sesuatu yang ternyata belum saatnya kali ini didapatkan dan berakhir kehujanan. Mungkin hanya karena belum mandi. Baiklah kalau begitu, saya buat kopi dulu, dingin.

Selamat datang kembali di siaran perdata Radio Cihuy, sahabat semua. Saya persembahkan lagu ini khusus untuk anda semua yang baru saja kehujanan. Selamat menikmati.
#nowplaying Monita – Kekasih Sejati


Oke, jadi apa yang akan kita lakukan kali ini.. hmm.. bagaimana kalau kita bermain tebak-tebakan?! Siapa yang tau jawaban dari pertanyaan saya, mendapat kesempatan jalan kayang naik Monas. Tapi Monas masih di Jakarta sih, nggak jadi kalau gitu.

Saya akan buka email yang masuk ke inbox Radio Cihuy, di antara ribuan email dari Cihuyers yang masuk ini, setelah saya tentukan sebelumnya, akan saya pilih satu email secara random. Dan email yang sedang sial akan saya bacakan.
Nah, sudah saya dapatkan. Email kiriman dari.. duh, lagi-lagi pengirim lupa menyertakan alamat emailnya. Sepertinya baru saja kami terima, oh benar sekali, tertanggal hari ini dan bertuliskan pukul 22.25. Baiklah, akan saya bacakan.
Tapi sebelumnya tolong ya, bagi Cihuyers yang mau mengirim email ke Radio Cihuy lain kali jangan lupa menyertakan alamat emailnya.



Sore tadi, aku terhenti di tepi sebuah jalan yang masih sibuk dengan urusan manusia. Saat rinai gerimis membias cahaya matahari, membentuk pelangi. Waktu seakan sengaja memperlambat langkahnya, mempertemukan mataku dengan pelangi yang perlahan terkikis merah langit senja.
Sejenak, aku tak peduli bagaimana dunia.


Malam ini kurebahkan tubuh lelahku, pejamkan mata, tak ada yang kulihat selain hitam. Telingaku hanya penuh dengan lirih nyanyian hujan yang menenggelamkan.

Tiba-tiba terlintas dalam kepalaku, kubayangkan seseorang yang sedang mencintaiku, dan aku yang mungkin juga mencintainya, sedang saling tersenyum berbagi tawa.

Lalu kubayangkan, karena suatu sebab, kecelakaan atau entah apa, ia yang mungkin kucintai harus kehilangan kedua matanya. Tak ada yang dapat ia lihat selain hitam, selain kelam. Tidak juga aku. Maka tak ada lagi saling tersenyum, tak ada lagi saling tawa, yang ada hanyalah aku yang sesekali melihatnya tersenyum, melihatnya tertawa.

Dan entah karena apa, kuputuskan memberikan kedua mataku untuknya. Lalu dengan operasi yang entah bagaimana, kedua mataku terpasang di rongga matanya. Maka aku tak lagi dapat melihat apa selain hitam, selain kelam.

Perlahan ia yang mungkin kucintai dapat kembali melihat dunia, dengan kedua mataku, sampai kapanpun ia mau atau hingga ia tak lagi mampu. Ia dapat mulai kembali melihat apapun yang ia mau dengan mataku. Suatu sore Ia dapat melihat pelangi, ia dapat melihat senja, atau ia dapat juga terus melihatku yang tak lagi mampu untuk melihatnya atau sesuatupun juga.  Bila ia mau.

Dan aku, mungkin akan mulai terus seperti ini, seperti malam ini kupejamkan mataku, tak ada yang lagi dapat kulihat selain hitam, selain kelam.


Baiklah, Sahabat Radio Cihuy, tulisan di emailnya hanya sampai di situ. Tampaknya Cihuyers satu ini sedang sedikit galau, atau anda pasti penulis cerita drama, ya?! Galau kok dipiara, yang dipiara tuh kumis, biar jadi gubernur.

Ah, sudah ya. Saya sibuk, mau jemur baju bos dulu, mumpung di luar masih hujan.
Nite all, have a nice weakday.



radiocihuy.blogspot.com

Rabu, 13 April 2011

Sungguh Mulia Hatimu Ibu.

Dears, sebelum melanjutkan, kisah dibawah ini adalah sebuah kisah fiksi yang tertuang didalam imajinasi, tidak ada kejadian fakta didalamnya. Hanya terinspirasi dari kisah Ibu dan Bunda yang di ikutkan dalam festival blog : Minum Teh Bersama Ibu dari guskar dot com

Dirumah nenek (begitulah anakku biasa memanggil Ibu), aku lihat Ibu tengah ngobrol dengan adik perempuanku satu-satunya yang sudah kian beranjak dewasa. Dari mimik mulut mereka, aku tau pasti mereka sedang membicarakan Ayah yang memang jarang pulang akhir-akhir ini. Menurut pengakuannya sih kerja, ya maklumlah Ayahku adalah seorang pengusaha Pub dan Resto yang cukup sangat sibuk.

Dan Resto Ayah kebanyakan ada di luar kota. Jadi dalam sebulan, paling banter Ayah pulang hanya tiga sampai empat kali saja. Itupun hanya setengah hari bisa duduk nyantai di rumah bersama kami sedangkan malamnya Ayah harus pergi lagi ngurusin Pub dan Karaoke.

Ayah selalu menenteng tas laptopnya setiap kali pulang dan turun dari Aerio-nya. Masih mengenakan kemeja lengan panjang dipadu dengan celana kain warna hitam dan sepatu coklat yang mengkilat. Begitulah gambaran setiap kali Ayah pulang.

Dengan mata masih setengah nyawa, aku keluar dari kamar, setelah seharian tertidur pulas, kecapekan nyetir dari rumah kami di luar kota sampai ke rumah Ibu tanpa ada yang menggantikan. Aku biarkan istri dan anakku melanjutkan tidur siangnya. Di sela-sela lemari hias, dari balik tirai kelambu, aku lihat Ibu sedang duduk di lantai keramik, memilah-milah baju Ayah yang baru saja ia angkat dari tali jemuran. Disampingnya berbaring manja adik cantikku satu-satunya.

"Gak terasa, sudah 18 tahun usiamu, Adikku..." gumamku dalam hati.
"Ibu..." dia Ratih namanya, "Ibu kenapa sih gak pernah protes ngeliat Ayah jarang pulang gitu?"
"Ayah kamu lagi kerja Sayang..." sahut Ibu tenang.

"Bohong..! Ratih ni udah besar Bu... uda tau sama hal-hal kayak gituan.."
"Hal-hal kayak gituan gimana maksud kamu?"

"Banyak temen Ratih yang ngeliat Ayah sering jalan sama gadis-gadis cantik seumuran Ratih Bu..."
"Huss..! Jangan asal bicara ya kamu, kalo Ayah denger bisa marah lho.."
"halaaaah... udalah Bu.. Ibu gak usah nutup-nutupin lagi.. Ratih udah tau semuanya." sanggah Ratih sambil mencibir.

Ku lihat Ibu lalu meletakkan baju yang tengah dipegangnya di atas alas setrikaan dan kemudian menggenggam kedua tangan Ratih erat. Dengan senyum penuh kasih dipandangnya sepasang mata itu dalam-dalam,

"Anakku... ingatlah selalu apa yang hendak Ibu katakan ini. Dan ingat itu ketika kelak kamu sudah berumah-tangga dan suami kamu sudah setua Ayah. Laki-laki seusia Ayah itu, tengah mengalami masa remajanya yang kedua. Dia mulai sedikit kekurangan kepercayaan akan dirinya.

Karena itu dia merasa membutuhkan gadis-gadis cantik dan muda di sekelilingnya yang akan selalu memberinya kata-kata pujian dan sanjungan. Yang dianggapnya itu sebagai bukti bahwa dia masih menarik, bahwa dia masih belum tua, bahwa para wanita masih mengejar-ngejar dia."

Ibu mengguncang-guncang tangan Ratih pelan dan mengusap anak rambut yang menempel di dahinya.

"Masa itu tidak akan berlangsung lama, Sayang... Bila sudah berlalu, Ayah akan kembali lagi pada kita, pada Ibu... Dan selama menanti, tidaklah berguna bagi Ibu untuk bermuka asam atau menyambutnya dengan palang pintu, sebab itu hanya akan membuatnya lari dari rumah yang dianggapnya sudah jadi seperti neraka.

Lebih baik kalo dia dimanjakan dan diberi kesan bahwa dia dibutuhkan oleh istri dan anak-anaknya. Ingat Ratih... tidak ada seorangpun yang tidak tergerak hatinya ketika mendapat perhatian lebih dari orang lain. Percayalah itu. Camkan baik-baik apa yang Ibu bilang.

Bila suamimu kelak sudah berumur mendekati lima puluh tahun, dan bila dia mulai tertarik lagi pada gadis-gadis cantik, janganlah kamu musuhi dia. Tapi tetaplah berhias yang cantik, sediakan minuman dan makanan yang masih hangat dan bereskan selalu tempat tidurnya. Siapkan baju-baju yang akan dipakainya seperti biasa.

Tutup mata kamu dan tersenyumlah. Tunggu sampai masa itu usai dan setelah semua berlalu, kamu akan merasakan sebuah kenikmatan hidup yang luar biasa. Yaitu ketika suami kamu akhirnya benar-benar kembali. Karena sesungguhnya, Tuhan akan memberikan sesuatu yang lebih pada hamba-Nya yang senantiasa sabar dan tawakal."

"Ibu...." spontan Ratih langsung bangun dan memeluk Ibu erat sambil menangis.

Begitu mulianya hatimu Ibu..
Dengan begitu bijaknya, Ibu menjawab pertanyaan Ratih, membela Ayah yang sudah jelas-jelas bersalah, mengkhianati kepercayaan yang Ibu berikan. Jujur aku kagum pada kemuliaan hatimu Bu... dan semua apa yang Ibu katakan itu benar-benar membuatku tergugah. Aku janji, aku akan berusaha untuk sebisa mungkin mengindari hal itu.

Tuhan... betulkah semua apa yang Ibu katakan itu..? Akankah aku nanti juga seperti itu? Jangan ya Tuhan... jangan Engkau buat hamba menjauh dari istri dan anak-anak hamba. Hamba sayang banget dengan mereka.