Kamis, 01 April 2010

Google Bisa Bikin Kita Jadi Bodoh?

Apakah informasi yang tersedia di Internet berkontribusi pada pengetahuan, atau menyediakan informasi di atasnya saja yang pada dasarnya membuat kita bodoh?

Analis Nicholas Carr menanyakan pertanyaan itu dalam tulisan di Atlantic Monthly. "Saya tidak berpikir seperti dulu lagi, karena hanya menelusuri web dan tidak berpartisipasi dalam pemikiran yang mendalam," tulisnya.


Penulis lain, Jamais Cascio menantang artikel Carr itu dengan bantahan di publikasi yang sama. Dia mengakui bahwa teknologi baru terkadang membuat sulit untuk berkonsentrasi, tapi tantangan itu bukannya menghasilkan "kecerdasan cair" atau menghasilkan makna dalam kebingungan.

Argumen ini merupakan bagian dari sebuah studi baru dari Pew Internet & American Life Project.

google logo update page rank

Organisasi itu mewawancarai 895 pemangku kepentingan teknologi dan kritikus lewat survei online tentang harapan sosial, politik, dan perubahan ekonomi tahun 2020, dan salah satu pertanyaan yang berhubungan dengan efek dari mesin pencari seperti Google.

Sekitar 76 persen responden mengatakan bahwa Google tidak akan membuat kita bodoh.

"Google memungkinkan kita untuk lebih kreatif dalam mendekati masalah dan lebih terintegrasi dalam pemikiran. Kita menghabiskan lebih sedikit waktu untuk mencoba mengingat dan lebih banyak waktu untuk menghasilkan solusi," kata Paul Jones dari ibiblio.org di University of North Carolina Chapel Hill.

"Bagi orang-orang yang pembaca dan yang bersedia mengeksplorasi sumber-sumber baru dan argumen baru, bisa lebih baik," tulis Oscar Gandy, seorang profesor di University of Pennsylvania.

Pew juga meminta tanggapan Google. "Google akan membuat kita lebih banyak informasi. Orang yang paling pintar di dunia bisa saja di belakang sebuah bajak di China atau India. Menyediakan akses universal terhadap informasi akan memungkinkan orang-orang untuk menyadari potensi penuh mereka, memberikan manfaat bagi seluruh dunia," kata Hal Varian, kepala ekonom di Google.

"Carr tentu saja benar bahwa Google menumbuhkan pemahaman data. Tapi untuk memahami data (baik untuk Google internal maupun bagi penggunanya) tidak seperti bangunan artefak yang sama berulang kali pada jalur perakitan, melainkan memerlukan kreativitas, campuran dari pengetahuan yang luas dan mendalam, dan sejumlah koneksi ke orang lain. Itulah yang dilakukan Google adalah berusaha untuk memfasilitasi," kata Peter Norvig, direktur riset Google.(vivanews)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar